Jumat, 15 Maret 2013

Tim-tim Yang Masuk Ke Perempat Final Liga Champion Inilah tim-tim yang sukses dalam babak enambelas besar dan berhak maju ke perempat final Liga Champion. Darin 8 tim yang ada, ternyata Spanyol meloloskan 3 klubnya, yaitu Real Madrid. Barcelona dan Malaga, menyusul Jerman dengan 2 klub, yaitu Dortmund dan Munchen, sedangkan Perancis, Italy dan Turki meloloskan masing-masing 1 klub, yaitu PSG (Perancis), Juventus (Italy) dan Galatasaray (Turki). Dan dalam hasil drawing (undian) yang dilakukan di pada hari Jumat, 15 Maret 2012 12:00 jam 19:00 WIB. Bertempat di gedung UEFA - Nyon, Swiss adalah sebaga berikut: Pertandingan 8 besar leg 1 akan dilaksanakan pada tanggal 2 dan 3 April 2013, dan pada leg 2 dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 April 2013. Berikut jadwalnya: Tuan Rumah Leg 1 2 April 2013 Malaga vs Borussia Dortmund Real Madrid vs Galatasaray 3 April 2013 PSG vs Barcelona Bayern Munich vs Juventus Tuan Rumah Leg 2 9 April 2013 Borussia Dortmund vs Malaga Galatasaray vs Real Madrid 10 April 2013 Barcelona vs PSG Juventus vs Bayern Munich

Rabu, 18 November 2009

SHALAWAT NARIYAH
Muhammad jamil Zainu
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi (dikutip dari www.muslim.or.id)
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن
الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”
Syaikh berkata:
“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”
Beliau melanjutkan penjelasannya:
“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)
Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)
Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:
“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)
Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”
***
Penulis: Muhammad Jamil ZainuDiterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel www.muslim.or.id

Kamis, 12 November 2009

Kisruh Antara KPK,
Kepolisian Dan Kejaksaan
Akhir-akhir ini dunia hukum di Indonesia terkesan sangat kacau. Banyak kita membaca berita di media cetak serta mendengar dan melihat berita di media elektronika yang memberikan gambaran betapa buramnya hukum. Semua orang berbicara dan berpendapat tentang hukum, padahal ia bukan seorang ahli hukum, sehingga tidak heran kalau ada media elektonika yang mencoba mewawancarai orang awam untuk meminta pendapatnya tentang hal-hal di seputar hukum dan peradilan. Atau mungkin orang pintar tetapi tidak memahami hukum acara, sebagaimana diatur dalam KUHAP. Okelah, dalam dunia demokrasi dewasa ini, apalagi kita lagi dalam keadaan euforia demokrasi tidak ada salahnya orang membuat suatu statemen, namun harus diingat jangan hanya berpendapat atau membuat statemen, padahal pembuat statemen tersebut mungkin bukan ahli di bidang hukum. Coba anda banyangkan, kok ada artis atau kalangan rakyat awam diwawancarai masalah-masalah yang sebenarnya mereka tidak mengetahui ilmunya. Sebagai seorang muslim, saya perlu mengingatkan akan adanya sebuah hadits yang menyebutkan :
إذا وجد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة
"suatu urusan yang diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya".
Hadits tersebut memberikan peringatan keras agar seseorang bekerja dan berpendapat sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Saya terkadang bingung, misalnya ada masalah hukum agama, tetapi diminta pendapat ke orang awam, sehingga seakan-akan hukum-hukum agama akan dilaksanakan, kalau semua orang setuju, kalau ada yang tidak setuju, maka hukum agama tersebut tidak boleh dilaksanakan. Misalkan masalah perkawinan antara agama, yang diwawancarai orang-orang awam, termasuk artis, padahal ruang lingkup perkawinan antar agama adalah para ahli hukum Islam.
Sekarang ini timbul kekisruhan atau dianggap perseteruan antara KPK, Kepolisian dan Kejaksaan, dan kita melihat banyak orang yang dimintai pendapat, bahkan dibentuk komunitas facebooker untuk mendukung KPK.
Saya bukan orang yang mendukung atau tidak mendukung, karena yang saya dukung adalah kebenaran (hak). Siapa yang benar, ialah yang harus kita dukung. Lalu siapa yang benar ketika kasus ini timbul? Tidak ada yang bisa menjawab siapa yang benar, karena beberapa ahli hukum sendiri pun berbeda pendapat, dan anehnya ketika orang berpendapat sebaliknya dianggap sebagai pendukung, padahal orang yang berpendapat demikian adalah para pakar yang mengetahui dan memahami sistem hukum dan peradilan di Indonesia. Ingat, ini bukan hukum Allah, dan bukan pengadilan Allah, tetapi hukum Indonesia dan pengadilan Indonesia. Berarti sistem hukumnya mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia yang nota bene sebagian besar berasal dari hukum Belanda, bukan hukum Islam. kenapa kita mencaci maki sistem hukum kita sendiri, padahal kita sendiri dalam tanda kutip masih memilih hukum tersebut sebagai hukum yang harus dilaksanakan? Kalau Indonesia mau berubah, kembalilah kepada sistem hukum Islam, hukum Allah yang abadi yang tidak boleh direkayasa oleh siapa pun. Dan jika sistem hukum Islam dilaksanakan, maka kekisruhan seperti saat ini tidak akan terjadi, karena Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan sebagai pilar utama dalam menegakkan hukum. Sistem hukum Islam tidak akan mebeda-bedakan orang, meskipun yang kita adili adalah kaum kerabat kita ataupun musuh kita.
Dalam surah al-Nisah ayat 135, Allah SWT menegaskan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu”.
Juga di surah al-Maidah ayat 8 Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa".

Jadi dalam hukum Islam sangat menjunjung tinggi keadilan, walaupun seorang aparat hukum (polisi, jaksa dan hakim) berhadapan dengan kerabatnya sendiri ataupun orang dimusuhinya/dibenci.
Dengan demikian, sangat disayangkan orang-orang Indonesia masih memilih sistem hukum di luar sistem hukum Islam.
Bahkan Allah SWT mempertanyakan :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”?
Pertanyaan Allah ini sekaligus memberikan gambaram bahwa tidak ada hukum yang paling baik, selain hukum Allah, sehingga seharusnya orang harus menerapkan hukum Islam sebagai satu-satunya alternative dalam menyelelesaikan problematika kehidupan manusia.

Rabu, 11 November 2009


MARI BERQURBAN


Sebentar lagi, kita akan merayakan idhul adhha. "Al-adhha" sendiri bermakna "penyembelihan", yang maksudnya adalah meyembelih hewan tertentu, yaitu sapi, kambing (domba), kerbau, unta, dan sejenisnya, yang terpenting binatang tersebut adalah hewan yang diternakkan dan halal dagingnya. Ayam dan bebek, meskipun halal dagingnya, tetapi ia tidak termasuk dalam kategori hewan yang dapat disembelih untuk ibadah qurban, tetapi bisa disembelih pada saat hari idul adhha, namun tidak termasuk dalam sebuah ibadah yang disyari'atkan oleh Islam.
Ada beberapa pendapat tentang hukum menyembelih hewan qurban, namun menurut saya pendapat yang lebih tepat adalah pendapat sebagian Ulama Hanafiah, yaitu hukumnya wajib bagi orang yang mampu, karena secara tegas Rasulullah SAW bersabda :
من كان له سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا
"Barang siapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tetapi tidak menyembelih hewan qurban, maka hendaklah ia tidak mendekati tempat sholat kami"
Hadits tersebut secara tegas mencela siapa saja di kalangan orang-orang Islam yang berkemampuan, tetapi tidak mau menyembelih hewan qurban.
Islam sangat memperhatikan hubungan sosial di antara manusia, sehingga meskipun ibadah penyembelihan hewan qurban adalah untuk memenuhi perintah Allah SWT., tetapi sesungguhnya manfaat ibadah tersebut kembali kepada kemaslahatan manusia, sehingga Islam itu benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Allah SWT berfirman :
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
"Kami tidak akan mengutus engkau (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta".
Berkenaan dengan itu, ketika ada orang yang mengamalkan ajaran Islam dengan cara kekerasan, maka hal itu bukanlah termasuk dari ajaran Islam yang sebenarnya, karena Islam diturunkan untuk menjadi rahmat, bukan menjadi laknat. Memang dalam al-Qur'an terdapat firman Allah yang berbunyi :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُم
"Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya adalah senantiasa bersikap keras (tegas) terhadap orang-orang kafir dan bersikap saling menyayangi di antara mereka" (Q.S. Al-Fath : 29).
Akan tetapi keras (tegas) di sini dalam artian bukan dalam berdakwah, tetapi dalam upaya menegakkan amar makruf dan nahi munkar, serta menegakkan hukum dan keadilan. Jadi seorang muslim harus tegas menyatakan yang hak/benar adalah hak/benar dan yang bathil/salah adalah bathil/salah, sudah tentu melalui koridor atau cara-cara yang dapat dibenarkan menurut Syari'at. Bahkan dalam hal ini, kita diajarkan sebuah doa yang berbunyi :
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه
"Ya Allah perlihatkanlah kepada kami bahwa yang hak itu adalah hak, dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya".
Dalam konteks ini sebagai seorang muslim harus menjadi contoh teladan sebagai seorang penegak kebenaran tanpa harus takut akan tekanan dari mana pun dan oleh siapa pun, karena seorang Islam hanya takut kepada Allah.
Oleh karena itu, dengan memahami Islam secara kaffah, kemudian mengamalkannya, akan memberikan manfaat bagi dirinya dan bagi diri orang lain. itulah sebabnya di dalam ibadah seperti ibadah qurban akan terasa manfaatnya bagi orang lain, karena daging dari hewan yang disembelih tersebut akan dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin, bahkan diperbolehkan di kalangan non muslim pun bisa dibagikan, jika ia berada di sekeliling kita. Memang Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, jika semua orang Islam mengamalkan Islam secara kaffah. Marilah kita berqurban untuk kemaslahatan bersama, membangun bangsa yang mandiri, membangun jiwa yang suci, ikhlas dalam beribadah, jauh dari sikap riya, sehingga menjadi orang-orang yang beruntung dan bahagia dunia dan akhirat.

Minggu, 24 Mei 2009

Syari'at Islam


Mengapa masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, tetapi tidak memilih syari'at Islam di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam bermasyarakat? Pertanyaan ini timbul, karena saya sangat prihatin. Misalnya, di Madura, diberitakan BEM se-Madura menolak Perda Syari'at Islam. Saya mau bertanya, apakah yang menolak itu tidak sadar, bahwa dengan penolakan itu berarti mereka telah menolak Islam. Jika demikian, maka patut sangat diragukan keislaman mereka dan barangkali jika mereka beragama Islam, maka mungkin mereka sudah menganut atau telah digerogoti oleh paham-paham sekuler atau paham Islam liberal, yaitu Islam yes, Syari'at Islam no!. Sungguh terlalu, kok orang Islam menolak syari'at Islam? Jika orang non Islam menolak itu wajar, karena mereka beragama lain, tetapi mereka juga tetap dikatakan salah. Mengapa? karena syari'at Islam adalah untuk orang Islam, bukan untuk mereka, mengapa mereka tidak setuju kita orang Islam mengamalkan ajaran agama kita? Kita pun ternyata tidak berhak melarang orang-orang kristen mengamalkan ajaran agamanya. Harus disadari, mengamalkan Islam, bukan sekedar melaksanakan rukun Islam, tetapi mengamalkan Islam adalah melaksanakan seluruh ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur'an maupun al-Hadits. Apa gunanya Allah SWT menurunkan hukum-hukumNya yang dimuat dalam al-Qur'an dan al-hadits, kalau tujuannya hanya mengamalkan rukun Islam. Saya berdoa kepada Allah, mudah-mudahan yang menolak Syari'at Islam di kalangan orang Islam itu sadar betul agar kembali mendukung penerapan syari'at Islam, baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional kenegaraan. Jika tidak sadar, maka saya berdoa, mudah-mudahan Allah menghancurkan mereka sebagaimana menghancurkan pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah. Allah Maha Berkehendak, saya yakin doa saya ini aka dikabulkan oleh Allah, cepat atau pun lambat. Oleh karena itu, sebelum terlambat, marilah kita tegakkan syari'at Islam di bumi Indonesia tercinta ini. Dan bagi teman-teman BEM se-Madura, kembalilah sadar, dan dukunglah Perda Syari'at Islam untuk Madura. Semoga Madura menyusul Aceh yang terlebih dahulu menerapkan syari'at Islam. Dan mudah-mudahan di dalam penerapan syari'at Islam nanti tidak disusupi oleh oknum-uknum yang sengaja merusaknya dari dalam. Oleh karena itu, kehati-hatian dan tetap waspada, jangan sampai ada kemunafikan di antara orang Islam. Semoga kita semua mengakhiri hidup ini tetap dalam keislaman, Amiin!!!

Selasa, 20 Januari 2009

Perjalanan Haji


Beberapa saat yang lalu, saya bersama rombongan jemaah calon haji Indonesia menunaikan rukun Islam yang ke lima, yaitu ibadah haji ke Baitullah, memenuhi panggilan Allah Yang Maha Agung. Saya secara kebetulan termasuk ke dalam rombongan I kloter 38 Embarkasi Jakarta, dari KBIH Annamirah Darul Arqam, Garut dengan ketua rombongan Bapak H. Ahmad Rodia.

Kami (saya dan rekan-rekan) sebelum ke Mekah, kami lebih dahulu diantar ke Medinah dengan menggunakan pesawat Arab Saudi (pesasawat Garuda tidak diperbolehkan, karena Medinah termasuk kota haram). Oleh karena itu, sebenarnya dalam pelaksanaan ibadah haji, kita tidak semata-mata diprogram untuk ibadah haji semata, tetapi juga diprogram untuk ziarah ke tempat-tempat bersejarah (mungkin hal ini yang turut mempengauhi BPIH itu mahal?). Singkatnya, sesampai di Medinah, selain melaksanakan Arbain di mesjid Nabawi, kami juga diantar untuk mengunjungi tempat-tempat atau lokasi-lokasi bersejarah di Medinah, antara lain mesjid Quba, jabal Uhud, mesjid Qiblatain (program Pemerintah) dan jamal magnit (program KBIH Darul Arqam).
Setelah delapan hari di Medinah, kami berangkat menuju Mekah dengan mengambil miqat di Mesjid Bir Ali. Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam, kami pun tiba di Mekah dan menempati maktab yang telah ditentukan oleh Pemerintah, yaitu di Syauqiyyah, sekitar 10 km dari Mesjidil Haram.
Setelah melaksanakan sholat shubuh di mesjid dekat pemondokan, kami pergi ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Dan selesai umrah, kami melaksanakan tahallul,yaitu dengan memotong beberapa rambut, dan setelah itu kami menyembelih hewan untuk mebayar "dam", karena kami menunaikan haji tamattu' (umrah lebih dahulu dari haji).
Sebelum melaksakan wuquf, kami mengisi hari-hari dengan ibadah sholat berjama'ah, baik di mesjid sekitar pemondokan maupun di Masjidil Haram, serta dzikir dan diskusi/ceramah. Selain itu kami juga melaksanakan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di kota Mekah dan sekitarnya, seperti di gua tsur, jabal nur (gua hira), Hudaibiyah dan peternakan unta.
Tepat pada tanggal 8 Dzulhijjah di pagi hari, kami berangkat menuju Mina untuk bermalam (mabit) di malam tanggal 9 Dzulhijjah (tanazul). Disebut tanazul, karena rombongan kami (KBIH) An-Namirah Darul Arqam) tidak mengikuti prgoram haji pemerintah yang langsung bermalam di Arafah pada malam tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga di perkemahan Arafah pada malam tanggl 9 Dzulhijjah sangat lowong, karena hanya diisi oleh beberapa rombongan haji Indonesia, namun untuk perkemahan jemah haji negara lain penuh terisi, karena secara kebetulan paham hajinya sama dengan program tanazul Darul Arqam. Bermalam di Mina pada malam tanggal 9 Dzulhijjah adalah contoh haji yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Setelah selesai sholat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah pagi, kami berangkat menuju Arafah untuk wuquf yang merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah haji, yaitu dimulai pada saat tergelincir matahari (waktu zhuhur) sampai terbenam matahari (waktu maghrib). Setelah itu kami berangkat menuju Mudzdalifah untuk mabit beberapa saat di sana, dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Mina. Selesai sholat shubuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, kami melaksanakan jamarah (melontar jumrah), dan di hari pertama jumrah (tanggal 10 Dzulhijjah) hanya melontar satu jumrah, yaitu jumrah Aqabah, setelah itu kami melaksanakan tahallul shugro. Kemudian pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, kami lanjutkan dengan melontar jumrah secara lengkap, yaitu jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Kami hanya mengambil nafar awal, karena kalau nafar tsani harus bermalam lagi di malam tanggal 13 Dzulhijjah dan melontar jumrah lagi di hari tanggal 13. Setelah melontar jumrah, kami bersiap-siap untuk kembali ke Mekah untuk melaksanakan thawaf ifadhah. dan setelah thawaf, kami melaksanakan tahallul kubra dengan mencukur (menggunduli) rambut, kecuali bagi jemaah haji perempuan, tidak digunduli. Selesailah rangkaian ibadah haji. Sebelum pulang ke tanah air, kami melaksanakan thawaf wada', dan setelah thawaf wada', kami langsung kembali pemondokan dan naik bis menuju Jeddah. Setelah bermalam semalam, keesokan harinya, kami pulang ke tanah air dengan pesawat saudi airlines, dan setelah menempuh perjalanan 9 jam, kami pun tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 07:00 WIB, dan pada sore harinya tiba di rumah-Garut-Jawa Barat.
Sebagai catatan kecil, ternyata di sana banyak kita temui orang yang benar-benar beribadah dan ada yang tidak, bahkan ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan, sehingga terlihat ada yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh Syar'i, bahkab ada yang berbuat syirik.
Oleh karena itu berhati-hatilah jika hendak melaksanakan ibadah haji, sangat disayangkan kalau uang sudah kita keluarkan sangat banyak, tapi nilai/pahala haji tidak didapati, malah mendapat dosa. Dengan demikian mengikuti bimbingan haji melalui KBIH harus teliti terlebih dahulu, jangan sampai KBIH yang kita ikuti justeru membimbing ke arah yang tidak benar. KBIH Annamirah Darul Arqam, Garut-Jawa Barat, saya rekomendasikan bagi pembaca untuk bisa memilihnya, karena KBIH ini benar-benar sebuah KBIH yang sangat kredibel. Bagi yang mau melaksanakan ibadah haji tahun 2009/1430 H. atau di tahun-tahun yang akan datang yang secara kebetulan berdomisil di Garut dapat mengontak saya, baik melalui email, yaitu : msangaji@gmail.com atau melalui HP 083826955563. Terima kasih, semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi masyarakat.

Rabu, 08 Oktober 2008

MERAIH PUASA YANG MABRUR


1. Melakukan peningkatan kualitas amaliah
Syawwal yang juga mempunyai makna peningkatan, maka seharusnya di bulan Syawal, seseorang yang telah melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan itu mengalami peningkatan, terutama sekali peningkatan dari segi kualitas, sebab Allah SWT. pada hakekatnya lebih menyukai kualitas amal seseorang dari pada kuantitasnya, sebab kuntitas amal, jika tidak diringi dengan kualitsanya, maka amalan seseorang bias menjadi sia-sia. Misalnya, orang berpuasa sebagaimana puasa Nabi Daud, tetapi puasanya itu tidak memberikan efek positif kepada dirinya, maka kuantitas puasanya itu tidak akan bernilai apa-apa di hadapan Allah, bahkan puasa Ram,adhan itu sendiri meskipun seseorang telah memenuhinya sebanyak 29/30 hari, namun Nabi mengatakan puasanya itu tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT, kecuali yang didapatkannya hanya lapar dan haus saja :
كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش
Di dalam al-Qur'an surah surah al-Mulk ayat 2, Allah SWT berfirman :
الذي خلق الموت والحيوة ليبلوكم أيكم أحسن عملا

2. Melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu (dhabtun nafs)
Melakukan perlawanan hawa nafsu tidak semata dilakukan pada saat bulan Ramadhan saja, karena perlawanan atau perang terhadap hawa nafsu harus dilakukan oleh seseorang sepanjang hidupnya, dan bulan Ramadhan hanya sarana latihan bagi seseorang, itupun hanya di siang hari. Oleh karena itu jika pengekangan hawa nafsu hanya di bulan Ramadhan saja atau ketika seseorang berpuasa saja, kehidupan manusia akan menjadi kacau, karena sebetulnya hari-hari yang paling lama adalah hari-hari di luar bulan Ramadhan yang jumlahnya 11 bulan. Ini berarti hanya sebulan orang melakukan pengekangan hawa nafsu, dan selama 11 bulan orang bebas mengikuti hawa nafsu. Sehinga dengan demikian upaya meraih kesuksesan puasa, bukan karena ibadah puasanya diterima dan diampuni segala dosa-dosanya sebagaimana jaminan Rasulullah :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Lantas ketika bulan Ramadhan telah berlalu, ia kembali bergelimang dengan perbuatan-perbuatan dosa karena mengikuti hawa nafsunya, maka alangka ruginya orang seperti ini.
Suatu ketika, setelah usai perang Badr, Rasulullah SAW bersabda :
رجعنا من جهاد الأصغر إلى جهاد الأكبر
Lantas para sahabat bertanya "perang apa yang lebih besar dari perang Badr? Maka Rasulullah menjawab :
جهاد النفس
Berperang melawan hawa nafsu.

3. Menghiasi diri dengan akhlaqul karimah
Sebagfaimana telah diketahui, bahwa ketika kita berpuasa, maka lidah dan lisan kita, tangan kita, mata kita dan segala panca indra kita, kita jaga untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat zhalim kepada orang lain. Lisan kita jaga agar tidak memaki, dan menyakiti orang lain, karena ketika kita mengumpat atau memaki atau menceritakan kejelekan orang lain (ghibah, namimah dsb) teman dan tetangga kita akan mengingatkan kepada kita, pak ini bulan Ramadhan, janganlah berkata atau berbuat demikian, kita pun sadar dan beristighfar, lalu meninggalkan perkata atau perbuatan yang tidak baik itu. Tetapi apakah di luar bulan Ramadhan, perkataan kita masih santun sebagaimana kita berpuasa? Apakah lisan kita masih terjaga dan terpelihara dari perbuatan menggunjing, ghibah, namimah dsb. Apakah perbuatan kita masih dihiasi dengan akhlaq yang mahmudah? Oleh karena itu, sesungguhnya saya berpendapat, puasa merupakan media yang memberikan pelatihan atau training kepada kita untuk nantinya seudah meninggalkan media pelatihan atau training itu, kita mampu merealisasikannya di sebela bulan berikutnya. Sehingga seseorang setelah berpuasa seharusnya menjadikan dirinya lebih sholeh dari sebelumnya. Dan oleh karena itu, kemabruran, bukan saja kita sudah melaksanakan haji, sebagai hadits Nabi. Dan kalau kemabruran cuma diperuntukkan bagi yang melaksanakan haji, sedangkan melaksanakan haji hanya orang dilaksanakan oleh orang yang mampu saja yang jumlahnya sangat sedikit, maka sudah target kemabruran ibadah hanya ditujukan kepada orang kaya saja, padahal semua orang mukmin diharapkan menjadikan ibadahnya menjadi mabrur, sehingga sholatnya menjadi sholat yang mabrur, shaumnya menjadi shaum yang mabrur, termasuk ibadah haji sudah tenbtunya diharapkan menjadi haji yang mabrur. Artinnya seserang harus memberikan dampak psitif dari ibadahnya yang telah ia lakukan. Semoga kita semuanya mendapatkan kemabruran dalam setiap ibadah yang kita laksanakan. Amin

Mohd. Abduh A. Ramly – Garut.